Toto Amsar Suanda

Soder

Soder, tidak saja bernilai praktis, akan tetapi juga mempunyai nilai simbolis. Dalam tayuban (di Jawa Timur) misalnya, selendang diartikan sebagai sampurnakno uripmu (sempurnakan hidupmu). Kesempurnaan hidup itu dilambangkan dengan sampur. Orang menari tayub itu sebenarnya mencari kebaikan dan kesempurnaan hidup di dunia untuk bekal di akhirat. Soder yang melintang di pinggang penari adalah simbol dari segudang perasaan hati manusia tentang kerinduan, kesunyian, kecintaan, kebencian, dan lain-lain.

Sumping

Sumping (bukan bahasa Sunda) adalah salah satu asesoris yang menempel di sisi kiri-kanan busana bagian kepala penari topeng yang disebut sobrah atau tekes. Bentuknya mirip dengan sebuah untaian bunga. Panjangnya (untuk ukuran orang dewasa) biasanya sekitar satu hasta, dan untuk ukuran anak-anak biasanya lebih pendek. Berjuntai dari atas kuping sampai melebihi pangkal paha. Bahannya terbuat dari berbagai macam bahan, antara lain ada yang dari daun pisang, biji-bijian, benang wool, kain perca, dan sebagainya.

Tapak Dara

Dalam pergelaran wayang golek, tapak dara adalah alat untuk menyangga “jagat” (gedebog pisang). Bentuknya seperti jangka dan kedua bagian ujungnya diruncingkan. Salah satu tiang penyangga bagian depan ditinggikan beberapa cm agar “jagat” bagian depan menjadi lebih tinggi.

Téngkép

Téngkép (bhs.Sunda), artinya sama dengan tekan, adalah salah satu teknik membunyikan alat musik atau waditra tertentu. Teknik menabuh ini biasanya dimaksaudkan untuk menghasilkan bunyi atau nada tertentu (guitar, suling, dan rebab, misalnya) atau untuk menghasilkan dan sekaligus menghilangkan bunyi gaung (fonem sengau) pada alat musik yang ditabuh itu.

Topeng Menor

Topeng Menor, bukanlah sebutan bagi suatu jenis kesenian. Sebutan itu sebenarnya hanya untuk menunjukkan seseorang sebagai penari topeng. Menor adalah nama lain bagi seorang yang bernama Carini. Ia adalah buah perkawinan dari Sutawijaya (ayah) dan Sani (ibu). Sutawijaya adalah dalang wayang kulit dan Sani dalang topeng.

Tuding

Dalam kamus bahasa Sunda, tuding artinya gagang tangan wayang golek atau wayang kulit. Gagang tersebut gunanya untuk menghidupkan atau menggerakkan tangan wayang, baik untuk geture saat wayang itu bicara, saat diarikan, dan diperangkan.

Tutunggulan

Tutunggulan atau di Jawa Tengah disebut Gejlok Lesung adalah seni tetabuhan yang alatnya terdiri atas alu dan lesung (halu, lisung, Sunda). Alu adalah alat untuk menumbuk padi yang terbuat dari sebatang kayu sebesar genggaman orang dewasa yang permukaannya dihaluskan, sedangkan lesung adalah wadah untuk menampung padi yang akan ditumbuk. Lesung terbuat dari kayu gelondongan yang dibuat persegi dan bagian tengahnya dikeruk sedalam ± 25 cm serta bagian ujungnya (kiri-kanan) diberi lubang. Salah satu ujungnya ada yang ditinggikan dan dibuat lengkungan yang disebut gelung.

Wawar

Sinonim katanya adalah bewara (Sunda), atau pemberitahuan, wara-wara (Jawa), mirip dengan sebuah undangan yang ditujukan kepada masyarakat untuk menghadiri suatu peristiwa atau kegiatan tertentu, misalnya pergelaran seni, pertandingan olah raga, pemutaran film, dan lain-lain.

Yudistira

Yudistira atau Dharmakusumah, adalah anak pertama Pandudewanata dari Dewi Kunti. Ia adalah penerus Kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Dalam pewayangan Jawa, Yudistira diberi gelar Prabu dan memiliki julukan Puntadewa. Kerajaannya disebut Amartapura. Nama lainnya adalah Samiaji, Bharata, Dharmawangsa, Kurumukhya, Kurunandana, Kurupati, dan lain-lain.