Tuding

Dalam kamus bahasa Sunda, tuding artinya gagang tangan wayang golek atau wayang kulit. Gagang tersebut gunanya untuk menghidupkan atau menggerakkan tangan wayang, baik untuk geture saat wayang itu bicara, saat diarikan, dan diperangkan.

Pada umumnya, tuding untuk wayang golek bahannya terbuat dari bambu, akan tetapi untuk wayang kulit ada pula yang terbuat dari tanduk. Bentuknya bulat, panjangnya antara 40 s/d 45 cm dengan diameter sekitar 3 inci. Pada wayang golek, alat tersebut dikaitkan ke tengah-tengah kedua telapak tangan wayang dengan benang yang panjangnya kira-kira 1 s/d 1,5 cm, sehingga jika sudah terpasang, alat tersebut seperti menggantung. Akan tetapi, benang pada tuding wayang kulit lebih pendek, kira-kira 0,5 cm. Diujung tuding paling atas dibuat lubang kecil untuk mengaitkan benang yang tersambung ke bagian telapak tangan wayang.

Pada bagian tangan wayang, baik wayang golek maupun wauang kulit, tuding adalah salah satu alat yang sangat vital. Melalui alat itulah tangan-tangan wayang dihidupkan untuk berbagai gerakan: gestur bicara, menari, dan perang. Cara memegang dan menggerakannya pun bermacam-macam. Ada yang dijepit dan ada yang digenggam, baik dengan tangan kiri maupun tangan kakan, atau sekaligus dengan kedua tangan (kiri dan kanan).

Tuding dalam wayang golek, selain difungsikan untuk menghidupkan tangan wayang, juga bisa difungsikan sebagai senjata atau alat, misalnya sebagai tumbak atau pengungkit. Demikian pula benangnya, selain berfungsi untuk mengaitkan tuding, juga berfungsi untuk menghidupkan bagian sikut. Caranya ialah dengan memutar tuding sehingga benang tersebut melilit ke bagian tuding sehingga menyatu dengan bagian telapak tangan wayang. Dengan cara ini maka sikut wayang bisa digerakkan seperti halnya orang yang menyikut saat diperangkan atau membengkokkan sikutnya saat ditarikan.

Cara memainkan tuding untuk wayang kulit agak sedikit berbeda dibanding dengan wayang golek. Hal ini disebabkan karena posisi tangan wayang kulit menyamping, sedangkan posisi tangan wayang golek seperti halnya posisi tangan manusia. Oleh sebab itu, ketika kedua tuding itu dimainkan, misalnya saat wayang itu ditarikan atau diperangkan, maka salah satu tuding itu digenggam oleh tangan dalang (kiri atau kanan) sekaligus dengan campurit. Cara memainkan tuding pada wayang kulit tidak sebebas memainkan tuding pada wayang golek.