Tutunggulan

Tutunggulan atau di Jawa Tengah disebut Gejlok Lesung adalah seni tetabuhan yang alatnya terdiri atas alu dan lesung (halu, lisung, Sunda). Alu adalah alat untuk menumbuk padi yang terbuat dari sebatang kayu sebesar genggaman orang dewasa yang permukaannya dihaluskan, sedangkan lesung adalah wadah untuk menampung padi yang akan ditumbuk. Lesung terbuat dari kayu gelondongan yang dibuat persegi dan bagian tengahnya dikeruk sedalam ± 25 cm serta bagian ujungnya (kiri-kanan) diberi lubang. Salah satu ujungnya ada yang ditinggikan dan dibuat lengkungan yang disebut gelung. Akan tetapi ada juga yang polos.

Tutunggulan terdapat di berbagai daerah di Jawa Barat terutama di pedesaan, seperti Ciamis, Kuningan, Bogor, Tasikmalaya, dan lain-lain, sebagai salah satu tradisi masyarakat desa pada zaman dahulu yang terkait dengan perikehidupan sosial masyarakatnya. Para pemainnya wanita (tua-muda), terdiri atas lebih dari empat orang, atau enam sampai dengan sepuluh orang, tergantung dari panjangnya lesung. 

Tutunggulan biasanya dilakukan pada saat-saat tertentu, terutama jika ada seseorang yang akan mengadakan hajatan (kenduri), misalnya kawinan, gusaran, atau sunatan. Di beberapa daerah, Desa Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya misalnya, setiap tumbukan (Tutunggulan) mempunyai pola tabuh yang disebut dengan tabuh/tumbukan indung, ungkut-ungkut, gelenceng pondok, dan gelenceng panjang.